Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Maret 2010

Menikmati Wisata Budaya Di Kota Cirebon

keratonkanomancirebon

Keraton Kanoman Cirebon.
Cirebon - Kota yang terletak di dekat perbatasan Jawa Tengah ini memiliki beberapa obyek wisata yang menarik untuk dilihat, khususnya peninggalan-peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan syiar Islam yang dilakukan oleh salah satu tokoh Wali Songo, Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati.

Sebut saja misalnya empat keraton yang hingga saat ini masih berdiri dengan kokoh, yakni Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon yang memiliki arsitektur gabungan dari berbagai elemen kebudayaan termasuk Islam dan unsur-unsur arsitektur Belanda.

Ada pula situs peninggalan sejarah kejayaan Islam masa lampau, Tamansari Gua Sunyaragi atau Gua Sunyaragi, yang merupakan sebuah kompleks bangunan yang menempati areal seluas 1,5 ha. Tempat ini dulu merupakan tempat peristirahatan, tempat menyepi, bertapa dan merupakan tempat rekreasi bagi Sultan Kasepuhan dan kerabatnya.

Kota Cirebon juga menjadi salah satu kota pelabuhan terpenting di pantai utara Jawa setelah

Jakarta dan Semarang. Disini akan dijumpai pelabuhan Cirebon Pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Sunan Gunung Djati masih berkuasa. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara, pernah meramaikan pelabuhan ini. Pemandangan itu pun masih kita temui hingga saat ini. Bila kita berjalan-jalan di sore hari, maka akan kita saksikan puluhan kapal-kapal besar tengah bersandar di dermaga.

Selain itu Cirebon telah lama dikenal sebagai pusat penghasil kain batik, terutama Batik Trusmi. Dan kota ini juga terkenal dengan kesenian tari topeng dan musik tarling yang menggabungkan suara gitar, suling dan suara manusia dalam perpaduan yang harmonis.

Cara Mencapai Daerah ini :

Anda dapat mencapai daerah ini dengan menggunakan bus, kereta api maupun kendaraan pribadi.

Tempat Menginap :

Di Cirebon banyak terdapat tempat penginapan mulai dari hotel non bintang hingga hotel berbintang dengan beragam fasilitas dan variasi tarif yang dapat Anda pilih sesuai dengan kebutuhan Anda.

Tempat Bersantap

Jika Anda datang ke Cirebon, jangan lupa untuk mencicipi kelezatan Nasi Jamblang yaitu nasi putih yang penyajiannya dibungkus dengan daun jati sehingga membuat nasi putih itu terasa berbeda. Apalagi bila dibungkus dalam keadaan hangat. Nasi Jamblang dapat disantap dengan beraneka ragam lauk pauk.Lokasi tenda nasi jamblang paling top berada di depan, Grage Mal, ujung jalan raya Tentara Pelajar. Selain Nasi Jamblang, masih ada Empal Gentong dan Nasi Lengko, yaitu nasi yang disajikan dengan campuran lauk, seperti rebusan toge, tahu, tempe goreng yang disiram dengan halusan bumbu kacang.

Yang Dapat Anda Lihat atau Lakukan :

• Berziarah ke makan Sunan Gunung Jati

• Memancing di tepi Pelabuhan Cirebon

• Menyaksikan kesenian tari topeng dan musik tarling

• Menyaksikan acara budaya seperti Grebeg Maulud yang diadakan setiap tahunnya untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal.

• Mengunjungi keraton-keraton di Cirebon

Buah Tangan

Sejak dulu Cirebon terkenal dengan sebutan Kota Udang, maka dari itu kurang lengkap rasanya apabila Anda tidak membeli oleh-oleh makanan khas yang terbuat dari udang seperti kerupuk udang, terasi, kecap sampai abon yang terbuat dari udang maupun ikan asin dan lain-lain. Jika Anda mengincar batik Cirebon sebagai oleh-oleh Anda, maka Anda bisa mengunjungi Desa Trusmi, sekitar 5 kilometer dari kota Cirebon. Anda juga bisa berburu kerajinan tangan seperti topeng khas Cirebon

Tips

• Udara di Cirebon hampir sama dengan kota pelabuhan lainnya di Indonesia, untuk itu lengkapi diri Anda dengan topi, kacamata dan payung.

• Kenakanlah pakaian yang nyaman untuk digunakan dan menyerap keringat

Sumber :http://erabaru.net/wisata/64-pariwisata/3629-menikmati-wisata-budaya-di-kota-cirebon

Rabu, 17 Maret 2010

Pariwisata Upacara Adat Kota Cirebon

Syawalan Gunung Jati
Setiap awal bula syawal masyarakat wilayah Cirebon umumnya melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Di samping itu juga untuk melakukan tahlilan

Ganti Welit
Upacara yag dilaksanakan setiap tahun di Makam Kramat Trusmi untuk mengganti atap makam keluarga Ki Buyut Trusmi yang menggunakan Welit (anyaman daun kelapa). Upacara dilakukan oleh masyarakat Trusmi. Biasanya dilaksanakan pada tanggal 25 bulan Mulud.

Rajaban
Upacara dan ziarah ke makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan di Plangon. Umumnya dihadiri oleh para kerabat dari keturunan dari kedua Pangeran tersebut. Dilaksanakan setiap 27 Rajab. Terletak di obyek wisata Plangon Kelurahan Babakan Kecamatan Sumber kurang lebih 1 Km dari pusat kota Sumber.

Ganti Sirap
Upacara yang dilaksanakan setiap 4 tahun sekali di makam kramat Ki Buyut Trusmi untuk mengganti atap makam yang menggunakan Sirap. Biasanya dimeriahkan dengan pertunjukan wayang Kulit dan Terbang.

Muludan
Upacara adat yang dilaksanakan setiap bulan Mulud (Maulud) di Makam Sunan Gunung Jati. Yaitu kegiatan membersihkan / mencuci Pusaka Keraton yang dikenal dengan istilah Panjang Jimat. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 8 s/d 12 Mulud. Sedangkan pusat kegiatan dilaksanakan di Keraton.

Salawean Trusmi
Salah satu kegiatan ziarah yang dilaksanakan di Makam Ki Buyut Trusmi. Di samping itu juga dilaksanakan tahlilan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tanggal 25 bulan Mulud.

N a d r a n
Nadran atau pesta laut seperti umumnya dilaksanakan oleh nelayan dengan tujuan untuk keselamatan dan upacara terima kasih kepada Sang Pencipta yang telah memberikan rezeki. Dilaksanakan dihampir sepanjang pantai (tempat berlabuh nelayan) dengan waktu kegiatan bervariasi.

Sumber :http://riechzzz.wordpress.com/2009/06/30/pariwisata-upacara-adat-kota-cirebon/

Pemkot Cirebon Siap Menjadi Kiblat Baru Kepariwisataan di Jabar

Cirebon, Kota Cirebon, Jawa Barat, harus menjadi kiblat baru bagi dunia pariwisata dan kebudayaan di Jawa Barat, yang selama ini melekat erat kepada Wilayah Bandung sebagai Daerah Tujuan Wisata budaya.

Demikian ditegaskan Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Kota Cirebon Abidin Aslichk epada RRI. Menurutnya, Potensi yang ada di wilayah Cirebon di Bidang Budaya dan Pariwisata sangat besar untuk dikembangkan menjadi tujuan baru bagi para wisatawan untuk menikmati wisata budaya.

Dicontohkan, Wilayah Cirebon mempunyai warisan leluhur dengan 3 Keraton yaitu Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan, kawasan situs-situs sejarah dan kawasan wisata bahari dan pesisir yang bisa dinikmati. Untuk itu, tegas Abidin, dengan potensi tersebut Cirebon juga bisa menjadi yang terdepan di wilayah Jawa Barat, karena dirasakan selama ini semua daerah di wilayah Jawa Barat, termasuk Cirebon kecuali Bandung, hanya dijadikan Pelengkap.

Sumber :http://219.83.122.194/web/index.php?option=com_content&view=article&id=7738:pemkot-cirebon-siap-menjadi-kiblat-baru-kepariwisataan-di-jabar&catid=44:ekonomi&Itemid=111

Lebih lanjut Abidin Aslich menjelaskan, pihaknya menyadari untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah, tentunya diperlukan perhatian serius dan kesadaran bersama, baik dari unsur masyarakat maupun pemerintah untuk menghidupkan kembali potensi budaya dan pariwisata Cirebon. Salah satu cara untuk wujudkan cita-cita tersebut, tegas Abidin, Disporbudpar Kota Cirebon ke depan mengagendakan menggelar kegiatan "Putra-Putri Pesisir", yang merupakan kultur dasar masyarakat Cirebon dengan peserta seluruh daerah yang terletak di wilayah Pantai Utara Pulau Jawa.

Abidin juga bertekad ke depan pihaknya akan membuat gebrakan-gebrakan baru yang bisa mengangkat citra Kota Cirebon menjadi yang terbaik di wilayah Jawa Barat.

Plangon, Obyek Wisata Hutan Kera di Cirebon

PLANGON merupakan obyek wisata hutan kera di Cirebon, terletak di Desa Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Sebagai obyek wisata Plangon sering dikunjungi oleh wisatawan, baik masyarakat Cirebon sendiri maupun luar Cirebon.

Selain menawarkan habitat kera. Plangon memiliki nuansa alam yang indah dengan banyaknya pepohonan sebagai tempat tinggal para kera-kera. Dimana terdapat juga dua makam yaitu makam Pangeran Panjunan dan Pangeran kejaksan yang berada diatas bukit Plangon.

Tentunya bagi para pengunjung yang baru pertama kali ketempat tersebut, kesan seram memang terasa, selain
hutannya yang cukup lebat juga setiap gerak gerik kita akan diikuti oleh monyet-montet yang memang
terkadang sedikit jahil.

Bagi para pengunjung yang ingin berwisata ke Plangon, setidaknya pawang setempat harus ikut menyertai untuk
membantu jikalau monyet-monyet tersebut menjadi nakal.

Untuk bisa mencapai puncak bukit Plangon, biasanya para pengunjung terlebih dulu harus menaiki ratusan anak
tangga. Dan bagi pengunjung yang ingin berwisata ke Plangon, disarankan untuk membawa makanan atau
kacang-kacangan yang akan diberikan kepada monyet-monyet.

Menurut penduduk setempat dimana setiap puluhan anak tangga hingga mencapai bukit Plangon, terdapat enam
wilayah yang dikuasai oleh para jawara-jawara monyet yang berbeda.

Sebagai obyek wisata Plangon merupakan obyek wisata yang berbeda karena mengandung perpaduan antara
nilai-nilai sejarah dan nuansa alam yang indah serta habitat monyet.

Sumber : http://www.beritacerbon.com/berita/2009-01/plangon-obyek-wisata-hutan-kera-di-cirebon

TAMANSARI/GUA SUNYARAGI, CIREBON

Print PDF

sunyaragiJika ingin melihat sisa-sisa kejayaan masa lalu keraton Cirebon, mampirlah ke Taman Sunyaragi, atau biasa disebut dengan Gua Sunyaragi.

Taman Sunyarangi atau Gua Sunyaragi pada jaman Kesultanan Cirebon berfungsi Tamansari, oleh karenanya taman ini juga sering disebut Tamansari Sunyaragi. Nama "Sunyaragi" berasal dari kata "sunya" yang artinya adalah sepi dan "ragi" yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sansekerta.

Tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati sekarang bernama keraton Kasepuhan.

Gua Sunyarangi adalah suatu cagar budaya Indonesia yang terletak di Jl.Brigjend. A.R.Dharsono, kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, dengan luas sekitar 15 hektar.

Tempat ini adalah salah satu peninggalan sejarah di Kota Cirebon, setelah Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Sejarah
Menurut buku Purwaka Carabuna Nagari karya Pangeran Arya Carbon, Tamansari Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M oleh oleh Pangeran Kararangen. Sedang Pangeran Kararangen adalah nama lain dari Pangeran Arya Carbon sendiri.

Namun menurut Caruban Kandha dan beberapa catatan dari Keraton Kasepuhan, Tamansari dibangun sekitar tahun 1529, dan alasan didirikannya bangunan ini adalah karena Pesanggrahan ”Giri Nur Sapta Rengga” berubah fungsi menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon, yang sekarang dikenal sebagai Astana Gunung Jati. Hal ini dapat dilihat dari taman Candrasengkala yang disebut ”Taman Bujengin Obahing Bumi” yang menunjuk angka tahun 1529, dimana ini berarti sama dengan yang ada di Keraton Kasepuhan yaitu pada bangunan Siti Inggil, dimana terdapat tanda candra sengkala ”Benteng Tinataan Bata” yang menunjuk angka tahun 1529 M. Selain itu di kedua tempat itu juga terdapat persamaan, yakni terdapat gapura ”Candi Bentar” yang sama besar bentuk dan penggarapannya. Menurut catatan ini, Pangeran Kararangen hanya membangun kompleks Gua Arga Jumut dan Mande Kemasan saja.

Pemugaran
Tamansari Sunyaragi telah beberapa kali mengalami perbaikan, yang pertama adalah pada tahun 1852 M yaitu zaman pemerintahan Sultan Syamsudin IV, setelah dilanda kerusakan oleh serangan Belanda pada tahun 1787 M. Saat itu, taman ini menjadi benteng pertahanan. Tan Sam Cay, seorang arsitek Cina, konon diminta Sultan Adiwijaya untuk memperbaikinya. Namun, arsitek Cina itu ditangkap dan dibunuh karena dianggap telah membocorkan rahasia gua Sunyaragi kepada Belanda. Karena itu, di kompleks Taman Sunyaragi juga terdapat patok bertulis ”Kuburan Cina”.

Yang kedua adalah pada tahun 1937 - 1938 M pernah dipugar oleh Pemerintahan Belanda yang pelaksanaannya diserahkan kepada seorang petugas Dinas Kebudayaan di Semarang, Krisjnan. Ia hanya memperkuat konstruksi aslinya dengan menambah tiang-tiang atau pilar bata penguat, terutama pada bagian atap lengkung. Namun terkadang ia juga menghilangkan bentuk aslinya, apabila dianggap membahayakan bangunan keseluruhan. Seperti terlihat di Gua Pengawal dan sayap kanan-kiri antara gedung Jinem dan Mande Beling.

Pemugaran terakhir dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, yang memugar Tamansari secara keseluruhan dari tahun 1976 hingga 1984.

Denah Gua Sunyaragi
Seperti layaknya sebuah keraton, begitupun dengan Tamansari Sunyaragi, terdiri dari bagian-bagian yang sangat luas dengan fungsinya masing-masing. Kompleks Tamansari Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. Bangunan gua-gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar komplek aku bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa.

Bagian pertama adalah Gua Pengawal, gua ini adalah sebagai pusat para prajurit yang bertugas mengawasi keadaan Tamansari. Bagian kedua adalah Bangsal Jinem, tempat ini biasanya dipergunakan sebagai tempat pertemuan tamu-tamu keraton yang mengunjungi tamansari. Bagian ketiga adalah Gua Peteng, gua ini memang keadaannya sangat gelap sekali, makanya dinamakan gua peteng. Dulu, para pangeran dan para sultan banyak lelaku, dan lelaku-lelaku itu biasanya dilakukan di Gua Peteng. Bagian keempat adalah Gedung Penembahan, yang terdiri dari ruang kaputran-tempat bersoleknya para Pangeran, dan ruang Kaputren-tempat bersoleknya para Putri Keraton.

Bagian selanjutnya adalah Balai Kambang, adalah suatu bangunan dengan luas 25 meter persegi, yang menurut ceritanya, bangunan ini zaman dulu dikelilingi oleh air. Sehingga para tamu bisa langsung masuk dari pintu pertama langsung menuju Balai Kambang dengan menggunakan perahu. Kemudian para abdi keraton menyambut tamu yang hadir dengan menabuh gamelan diatas Balai Kambang. Terus menyusuri gua, kemudian kita akan sampai di Gua Padang Ati, adalah tempat semedinya para Pangeran mencari petunjuk Sang Ilahi, terutama jika sedang ada suatu permasalahan. Di sebelahnya adalah Gua kelanggengan, gua ini dipercaya sebagai tempat yang dapat melanggengkan pernikahan keluarga, atau seseorang yang ingin segera mendapat jodoh.

Selain gua-gua tersebut di atas, juga terdapat taman-taman yang dipercaya sebagai taman-taman yang sangat indah pada waktu zamannya. Indah karena taman-taman tersebut, nampak dari petilasannya, tersusun sangat rapi dan bernuansa romantis. Terbuka, bisa memandang langit dengan leluasa dan disertai dengan tempat duduk dari batu sebagai tempat bersantai. Taman-taman tersebut adalah; Taman Bajenggi Obahing Bumi; Taman Puteri Bucu dan Perawan Sunti dan Taman Kaputren.

Walaupun berubah-ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Tamansari Sunyaragi adalah taman tempat para pembesar keraton dan prajurit keraton bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan. Bagian-bagiannya terdiri dari 12 antara lain:

  1. Bangsal Jinem: tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit berlatih;
  2. Goa Pengawal: tempat berkumpul para pengawal Sultan;
  3. Kompleks Mande Kemasan (sebagain hancur);
  4. Goa Pandekemasang: tempat membuat senjata tajam;
  5. Goa Simanyang: tempat pos penjagaan;
  6. Goa Langse: tempat bersantai
  7. Goa Peteng: tempat nyepi untuk kekebalan tubuh;
  8. Goa Arga Jumud: tempat orang penting keraton;
  9. Goa Padang Ati: tempat bersemedi;
  10. Goa Kelanggengan: tempat bersemedi agar langgeng jabatan;
  11. Goa Lawa: tempat khusus kelelawar;
  12. Goa Pawon: dapur penyimpanan makanan.

Arsitektur Gua Sunyaragi
Dilihat dari gaya atau corak dan motif-motif ragam rias yang muncul serta pola-pola bangunan yang beraneka ragam dalam Taman Sunyaragi, dapat disimpulkan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atau Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam dan gaya Eropa.

Gaya Indonesia klasik atau Hindu dapat terlihat pada beberapa bangunan berbentuk joglo. Misalnya, pada bangunan Bale Kambang, Mande Beling dan gedung Pesanggrahan, bentuk gapura dan beberapa buah patung seperti patung gajah dan patung manusia berkepala garuda yang dililit oleh ular. Seluruh ornamen bangunan yang ada menunjukkan adanya suatu sinkretsime budaya yang kuat yang berasal dari berbagai dunia. Namun, umumnya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia Klasik atau Hindu.

Gaya Cina terlihat pada ukiran bunga seperti bentuk bunga persik, bunga matahari dan bunga teratai. Di beberapa tempat, dulu Gua Sunyaragi dihiasi berbagai ornamen keramik Cina di bagian luarnya. Keramik-keramik itu sudah lama hilang atau rusak sehingga tidak diketahui coraknya yang pasti. Penempatan keramik-keramik pada bangunan Mande Beling serta motif mega mendung seperti pada kompleks bangunan gua Arga Jumut memperlihatkan bahwa gua Sunyaragi mendapatkan pengaruh gaya arsitektur Cina. Selain itu ada pula kuburan Cina, kuburan tersebut bukanlah kuburan dari seseorang keturunan Cina melainkan merupakan sejenis monumen yang berfungsi sebagai tempat berdoa para keturunan pengiring-pengiring dan pengawal-pengawal Putri Cina yang bernama Ong Tien Nio atau Ratu Rara Sumanding yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati.

Sebagai peninggalan keraton yang dipimpin oleh Sultan yang beragama Islam, gua Sunyaragi dilengkapi pula oleh pola-pola arsitektur bergaya Islam atau Timur Tengah. Misalnya, relung-relung pada dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap pasholatan atau musholla, adanya beberapa pawudlon atau tempat wudhu serta bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Hal tersebut menjelaskan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi juga mendapat pengaruh dari Timur Tengah atau Islam.

Gua Sunyaragi didirikan pada zaman penjajahan Belanda sehingga gaya arsitektur Belanda atau Eropa turut mempengaruhi gaya arsitektur gua Sunyaragi. Tanda tersebut dapat terlihat pada bentuk jendela yang tedapat pada bangunan Kaputren, bentuk tangga berputar pada gua Arga Jumut dan bentuk gedung Pesanggrahan.

Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat terlihat dengan adanya tempat bertapa seperti pada gua Padang Ati dan gua Kelangenan, tempat sholat dan pawudon atau tempat untuk mengambil air wudhu, lorong yang menuju ke Arab dan Cina yang terletak di dalam kompleks gua Arga Jumut; dan lorong yang menuju ke Gunung Jati pada kompleks gua Peteng. Di depan pintu masuk gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti. Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis memegang patung tersebut maka ia akan susah untuk mendapatkan jodoh. Kesan sakral nampak pula pada bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Selain itu ada pula patung Haji Balela yang menyerupai patung Dewa Wisnu.

Pada tahun 1997 pengelolaan gua Sunyaragi diserahkan oleh pemerintah kepada pihak keraton Kasepuhan. Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi fisik gua Sunyaragi. Kurangnya biaya pemeliharaan menyebabkan lokasi wisata gua Sunyaragi lama kelamaan makin terbengkelai.


sumber : http://liburs.com/obyek-wisata/bandung-dan-jawa-barat/775-tamansarigua-sunyaragi-cirebon

Turis Inggris Kunjungi Kraton Cirebon

Cirebon, Antara News - Sebanyak 68 wisatawan asal Inggris yang berlibur menggunakan kapal pesiar yang berlabuh di pelabuhan Cirebon mengunjungi Keraton Kasepuhan Cirebon, Selasa sore. Menggunakan kapal pesiar bernama "Island Sky Nassau," para turis tiba di Pelabuhan Cirebon sekitar pukul 14.00 WIB disambut iringan musik "genjring" dari Keraton Kasepuhan Cirebon.

Setelah puas menikmati nyanyian yang diiringi tabuhan "genjring," para pelancong ini langsung dipersilakan menaiki becak wisata yang telah disediakan oleh pihak penyelenggara "tour" menuju Keraton Kasepuhan. Roselin (45), salah seorang turis asal inggris mengaku senang atas sambutan musik "genjring" tersebut karena sepanjang perjalannya baru kali ini mendapat sambutan berupa nyanyi-nyanyian yang diiringi alat musik tabuh tersebut. "Ini perjalanan saya yang pertama ke Cirebon dan mendapat sambutan yang berbeda dari yang lain. Dan saya sangat menyukainya," kata Roselin.

Selanjutnya para wisatawan asing ini mengunjungi keraton Kasepuhan dan segala macam peninggalan sejarah di museum selama sekitar tiga jam. Ricky Johansyah, Director of MICE & Operation Bali Discpvery Tours mengatakan alasannya menjadikan Cirebon sebagai salah satu kunjungan wisata para turis ini adalah karena nilai historisnya dimana Cirebon merupakan pusat perniagaan yang cukup terkenal pada jaman penjajahan dulu dan tidak terlepas dari keterlibatan bangsa Inggris.

"Sebagian besar para turis ini adalah orang Inggris dan kami ingin memperkenalkan Cirebon sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki nilai historis sebagai kota niaga yang tergolong pesat saat jaman penjajahan dahulu. Dan dalam buku sejarah pun disebutkan dalam perkembangannya pelabuhan Cirebon juga tidak terlepas dari keterlibatan bangsa Inggris," kata Ricky. Diakui Ricky, kunjungan wisatawan kapal pesiar ini merupakan yang pertama kali mengunjungi kota Cirebon. Namun Ricky berencana akan mengagendakan Cirebon sebagai salah satu tujuan wisata untuk paket wisata selanjutnya.

"Kami sudah mengagendakan Cirebon sebagai salah satu objek kunjungan wisata yang kami tawarkan. Kami menilai Cirebon punya potensi yang bagus sebagai objek wisata terkait budaya, kesenian daerahnya dan keratonnya," kata Ricky. Rencananya, setelah mengunjungi Cirebon para wisatawan asing ini akan melanjutkan kunjungan wisatanya ke sejumlah daerah lain di Indonesia seperti Borobudur melalui Semarang, Probolinggo, Madura dan Bali.

sumber : http://cirebonpromotioncenter.blogspot.com/