Lukisan KacaPerkembangan lukisan kaca Cirebon tidak terlepas dari sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa. Konon Seni Lukis Kaca ini sudah dikenal sejak abad 17 Masehi.
Khususnya di daerah Cirebon. Pada jaman pemerintahan panembahan Ratu di Cirebon, lukisan kaca digunakan sebagai media dakwah agama Islam. Oleh sebab itu bentuk lukisan yang dikenal pada waktu itu hanya dua jenis, yakni berupa kaligrafi, dan gambar wayang.
Seiring dengan pertumbuhan seni lukis kontemporer lainnya, lukisan dengan media kaca ini mulai dikenal masyarakat luas pada tahun 1970, dan sempat booming tahun 1980 -1990. Sang maestro lukisan kaca Cirebon Toto Sunu membuat gebrakan dengan lukisan kaca super besar dan nuansa dekoratif yang begitu hidup. Maka lukisan kaca makin dikenal sebagai eksistensi cinderamata Spesifik khas kota Cirebon.
Lukisan kaca kota udang ini di lukis dengan tekhnik melukis terbalik, sangat kaya akan gradasi warna dan nuansa dekoratif yang menawan serta menampilkan ragam hias ornament dan motif Mega Mendung serta Wadasan, kemudian lebih dikenal dengan sebutan Batik Cirebon. Kreatifitas seniman ini kemudian menambah jenis lukisan kaca Batik Cirebon dan jaman sekarang dikenal pula lukisan kaca oriental atau umum yang biasanya berupa bunga, wajah, pemandangan dan lain-lain.
“Tahapan tekhnis melukis di kaca ini agak berbeda dengan seni lukis yang lain, pertama sketsa dibuat pada kertas kemudian ditempel pada media kaca dan melukis di bidang kaca sebelahnya, ini yang dinamakan dengan tekhnik melukis terbalik, kata Dian, pendiri sekaligus pemilik Sanggar Alam Seni Lukis Kaca Cirebon.
Koas yang digunakan minimal 5 buah, mulai dari yang halus sampai yang kasar atau besar. Untuk koas yang paling halus pelukis menggunakan bulu kucing, dan bulu ayam untuk koas paling kasar. Seniman lukisan kaca biasanya membuat sendiri peralatan melukisnya. Sebagai finishing lukisan kaca digunakan tekhnik tembak atau airbrush guna memunculkan gradasi warna dan kesan pecah-pecah yang menarik, bahan baku yang dipakai melukis adalah cat minyak
Ciri khas lukisan kaca Cirebon adalah Kaligrafi, Wayang dan Batik Cirebon, ada 42 jenis kaligrafi peninggalan para Wali atau Sunan, khusunya Sunan Gunung Jati, semuanya mempunyai makna dan tujuan yang berbeda. Salah satunya adalah Macan Ali berupa tulisan arab dengan lafadz dua kalimat syahadat, kaligrafi ini bertujuan memberikan semangat atau memotivasi pemiliknya agar selalu ingat kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Contoh wayang adalah lukisan Ganesha, gambar dua gajah yang satu membawa pedang dan satunya lagi membawa gada. Lukisan ini dipercaya menjaga kekuatan jahat, biasanya di pajang di depan pintu rumah. Untuk lukisan wayang berdasarkan pesanan bagi orang yang percaya dunia perwayangan. Dian menyarankan, lukisan karakter wayang yang dipesan disesuaikan dengan hari weton atau kelahiran si pemesan. Misalnya, kelahiran hari Senin disarankan memilih tokoh Arjuna, Selasa cocok dengan Bima, Rabu Semar, Kamis Hanoman, Jumat Prabu Kresna, Sabtu Baladewa, Minggu Yudistira.
Masing-masing membawa sifat dan kepribadian yang berbeda, dan diharapkan membawa pengaruh baik bagi pemilik lukisan apabila pasanannya berdasarkan rambu-rambu weton di atas. Sanggar Alam milik Dian Mulyadi yang berdiri sejak tahun 1997, menawarkan dua harga yang berbeda. “Untuk harga jual barang yang sudah ada, ukuran kaca; 20 x 30 cm dan bingkai 6 cm Rp.80.000, ukuran 30 x 40cm Rp.150.000, 40 x 50cm Rp.300.000, 55 x 75cm Rp. 450.000 dan 120 x 70cm ukuran bingkai 8 cm Rp.1.000.000 pembelian lebih dari 5 unit mendapat potongan 10 %.
Sedangkan untuk harga pesanan dikenankan biaya tambahan, biasanya mencapai tiga kali lipat harga produksi. “Dalam proses pengerjaan pesanan khusus di butuhkan ritual tertentu dan memakan waktu sedikit lama,” ujar Dian.
Sanggar-sanggar lukisan kaca Cirebon semua terpusat di daerah Sunyaragi Cirebon, begitu pula dengan sanggar Dian yang bermarkas di Jl. Karang Jalak Gang Jalak I RT.01/06 No.19. Sunyaragi berasal dari kata Sunya yang artinya “Sunyi atau Sepi” dan Ragi artinya “raga”, jadi Sunyaragi adalah tempat menyepinya raga yang ingin membersihkan diri, dikenal sebagai tempat bertapa. Sebagian besar pelukis kaca Cirebon pernah melakukan pembersihan diri agar karya lukisannya mempunyai nilai-nilai yang lebih dari pada sekedar lukisan.
Setiap daerah mempunyai tradisi dan kepercayaan yang berbeda, ini menandakan bahwa budaya Indonesia beragam. Terlepas dari semua itu, fenomena lukisan Cirebon ini merupakan budaya, sebuah karya seni bangsa yang harus di jaga dan diwariskan kepada anak cucu kita. Dan dengan pernah dieksportnya lukisan kaca Cirebon ke Korea, Belanda dan Dubai membuktikan bahwa bangsa Indonesia kaya akan budaya.
Sumber :http://erawisata.com/cinderamata/cinderamata/lukisan-kaca-cirebon-warisan-budaya-wali-songo.html
Rabu, 17 Maret 2010
tahu gejrot di kota metropolitan
Jakarta - Kini tak sulit mencari tahu gejrot di Jakarta. Tak hanya namanya yang unik, tahu goreng yang dipotong-potong dan diguyur kuah sambal kecoklatan yang rasanya pedas dan gurih ini benar-benar poll enaknya. Jangan heran kalau seporsi saja tak pernah cukup!
Salah satu makanan khas orang Cirebon ini memiliki nama yang cukup unik yaitu tahu gejrot. Meskipun tak jelas darimana asal mula nama tersebut bermula tetapi berkat rasanya yang enak dan khas membuatnya cukup populer. Tak hanya di Cirebon sana melainkan di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia.
Yang menjadikan tahu gejrot merupakan makanan yang unik dan disukai adalah bahan-bahan dan bumbu racikannya. Pertama bahan dasar tahu yang digunakan bukanlah sembarang tahu melainkan tahu khusus yang didatangkan dan dibuat dari Cirebon. Tahu kulit ini rasanya tawar dan teksturnya sedikit kasar berbeda dengan tahu Sumedang.
Selain irisan tahu ada kuah sambal yang diracik dengan sejumlah bumbu seperti garam, bawang merah, bawang putih, gula merah dan cabai rawit. Kesemuanya di uleg kasar dalam wadah seperti cobek mungil dari tanah liat lalu ditambahkan air yang sudah dicampur kecap dan gula aren.
Tahu yang telah dipotong dua kemudian disiramkan oleh kuah sambal. Nah, kuah kecoklatan yang meresap dalam tahu inilah yang membuat rasanya sangat nikmat. Belom lagi sensasi pedas gerusan cabai rawit yang menyetrum lidah... wuihh dijamin bikin ketagihan. Untuk menikmatinya tahu gejrot ini tidak menggunakan sendok melainkan sebatang lidi kecil untuk menusuk tahu.
Di Jakarta tahu gejrot biasanya dijual di warung dan rumah makan gaya Cirebon dengan harga sekitar Rp 5.000,00 - Rp 7.000,00 saja. Gimana, tertarik untuk mencicipi tahu gejrot sore ini?
Sumber : http://tahugejrotcirebon.com/?idmenu=19&id=44
Salah satu makanan khas orang Cirebon ini memiliki nama yang cukup unik yaitu tahu gejrot. Meskipun tak jelas darimana asal mula nama tersebut bermula tetapi berkat rasanya yang enak dan khas membuatnya cukup populer. Tak hanya di Cirebon sana melainkan di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia.
Yang menjadikan tahu gejrot merupakan makanan yang unik dan disukai adalah bahan-bahan dan bumbu racikannya. Pertama bahan dasar tahu yang digunakan bukanlah sembarang tahu melainkan tahu khusus yang didatangkan dan dibuat dari Cirebon. Tahu kulit ini rasanya tawar dan teksturnya sedikit kasar berbeda dengan tahu Sumedang.
Selain irisan tahu ada kuah sambal yang diracik dengan sejumlah bumbu seperti garam, bawang merah, bawang putih, gula merah dan cabai rawit. Kesemuanya di uleg kasar dalam wadah seperti cobek mungil dari tanah liat lalu ditambahkan air yang sudah dicampur kecap dan gula aren.
Tahu yang telah dipotong dua kemudian disiramkan oleh kuah sambal. Nah, kuah kecoklatan yang meresap dalam tahu inilah yang membuat rasanya sangat nikmat. Belom lagi sensasi pedas gerusan cabai rawit yang menyetrum lidah... wuihh dijamin bikin ketagihan. Untuk menikmatinya tahu gejrot ini tidak menggunakan sendok melainkan sebatang lidi kecil untuk menusuk tahu.
Di Jakarta tahu gejrot biasanya dijual di warung dan rumah makan gaya Cirebon dengan harga sekitar Rp 5.000,00 - Rp 7.000,00 saja. Gimana, tertarik untuk mencicipi tahu gejrot sore ini?
Sumber : http://tahugejrotcirebon.com/?idmenu=19&id=44
Makanan dan Minuman Khas Cirebon
1. Empal Gentong
Empal Gentong adalah makanan khas Cirebon sejenis soto. Cara makannya pun tak jauh beda dengan soto, yakni dimakan campur dengan lontong atau nasi. Yang membedakan dengan jenis soto lain adalah alat masaknya yang unik, yakni menggunakan gentong. Selain itu, makanan ini dimasak dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Selain alat memasaknya yang khas, empal gentong juga memiliki sambal yang punya cita rasa tersendiri. Sambal yang super pedas dan berbahan dasar cabe rawit yang dikeringkan ini membuat rasa maupun aromanya benar-benar khas dan menggugah selera makan. Empal ini berisi daging sapi, usus, dan babat disertai dengan kuah santan yang kental sehingga membuat aroma masakan semakin sedap.
Empal Gentong
Empal Gentong
2. Nasi Lengko
Meski terdiri dari bahan yang sederhana, makanan ini mengandung banyak nutrisi yang sangat baik bagi tubuh. Makanan khas Cirebon ini terdiri dari campuran nasi dengan tahu, tempe, mentimun, tauge, dan daun kucai (seledri). Di atas campuran itu, ditaburi bawang goreng dan disiram bumbu kacang dan kecap. Menjadi lebih enak dimakan apabila dimakan beserta krupuk. Warung nasi lengko cukup tersebar di sekeliling kota Cirebon. Selain sederhana, harga nasi lengko juga terjangkau bagi masyarakat kelas bawah
3. Nasi Jamblang
Nasi jamblang adalah nasi khas Cirebon yang pulen dan dibungkus dengan rangkapan daun jati. Selain rasa nasinya yang enak (pulen), aromanya yang khas, dan bentuknya yang unik, juga kekhasan lain dari Nasi Jamblang ini adalah sambel merahnya yang dibungkus dengan takir kecil. Lauk pauk untuk nasi ini disediakan secara bermacam-macam, ada paru goreng, sate usus, ikan asin, telor dadar, telor ceplok, daging, tempe goreng, tahu goreng, tahu masak, hati goreng, rempela goring, perkedel, dan lain-lain. Jamblang adalah nama sebuah daerah di Kabupaten Cirebon asal mula nasi ini berasal.
4. Tahu Gejrot
Tahu Gejrot adalah tahu goreng yang dipotong-potong dan dimakan di dalam piring kecil yang terbuat dari tanah merah. Potongan tahu ini diberi bumbu gula merah, bawang merah, cabe, dan sari asam. Tahu gejrot dapat diperoleh di berbagai tempat di Kota dan Kabupaten Cirebon. Tahu gejrot kebanyakan dijual dengan cara dipinggul dan berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Tahu gejrot akan terasa lebih enak manakala dimakan pada saat cuaca sedang panas atau siang hari.
5. Bubur Sop
Bubur Sop adalah bubur yang disertai kol, daun bawang, tauco, disiram dengan kuah sop yang ditaburi daging ayam suwir-suwiran dan kerupuk. Bubur ini akan terasa sangat nikmat apabila kuah sop segar. Bubur Sop biasa dimakan sebagai sarapan pagi.
6. Sate Kalong
Meski namanya sate kalong, bukan berarti sate daging kalong, melainkan sate yang dijual menjelang maghrib dan satenya terbuat dari daging kerbau. Sate ini dipercaya masyarakat sebagai makanan untuk penambah stamina.
7. Docang
Docang terbuat dari lontong yang dipadukan dengan daun singkong, toge, taburan kelapa parut, kerupuk, dan ditaburi dengan kuah yang terbuat dari dage/bumbu oncom. Dengan taburan kelapa parut asli, sayuran, dan kuah bening yang terbuat dari oncom, makanan ini terasa nikmat juga segar. Makanan ini mudah dijumpai pada hampir setiap kecamatan di Cirebon.
8. Mie Koclok
Makanan ini terbuat dari mie yang ditaburi toge, kol, dan dipadukan telor ayam, daging dengan bumbu kuah santan. Makanan ini menjadi nikmat manakala dimakan pada malam hari.
9. Kerupuk Melarat
Kerupuk Melarat adalah kerupuk yang digoreng dengan pasir, bukan minyak. Biasanya krupuk ini berbentuk lebar tak beraturan dan berwarna-warni. Proses pembuatannya tidak beda dengan krupuk pada umumnya. Terbuat dari aci (tepung). Dinamakan krupuk melarat karena digoreng tidak dengan minyak, tetapi dengan pasir.
10. Kerupuk Lambak
Kerupuk yang berwarna coklat kehitaman (warna kulit) ini terbuat dari kulit kerbau pilihan. Kerupuk ini bentuknya besar-besar dan ukurannya lebar. Dengan warna yang alami membuat rasa krupuk lambak ini sangat gurih nan nikmat.
11. Terasi Udang
Sekilas terasi ini tampak sama dengan terasi-terasi lainnya. Kekhasan terasi udang Cirebon terletak dari bahan dasar pembuatannya, yakni dari rebon atau udang kecil-kecil yang berwarna merah. Terasi Cirebon disajikan dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang dibungkus dengan plastik, ada juga dengan daun pisang tua. Terasi yang dibungkus dengan daun pisang tua terasa lebih khas, terutama bau dan rasanya. Terasi ini biasanya bahan pokok untuk pembuatan sambal terasi. Terasi ini dapat dijumpai di beberapa daerah di Cirebon.
Minuman Khas Cirebon
1. Tjanpolay
Tjanpolay adalah minuman sirup yang disajikan dalam bentuk botol. Penyajiannya sama dengan bentuk sirup lainnya. Sirup Tjampolay memiliki cita rasa tersendiri. Sirup ini memiliki rasa yang beraneka ragam, ada rasa pisang susu, lici, jeruk nipis, melon, dan strauberi membuat rasa semakin nikmat.
2. Teh Poci
Sekilas teh ini tidak berbeda dengan teh yang lain. Teh poci memiliki rasa yang sangat nikmat karena selain dari rasa teh yang alami, juga disuguhkan dengan menggunakan sejenis teko yang terbuat dari tanah liat (Poci), dan gula batu (bukan gula pasir). Teh ini sangat terasa nikmatnya manakala diminum pada pagi atau malam hari.
Sumber : http://fahmina.or.id/kecirebonan/makanan-dan-minuman-khas/683-makanan-dan-minuman-khas-cirebon-.html
Empal Gentong adalah makanan khas Cirebon sejenis soto. Cara makannya pun tak jauh beda dengan soto, yakni dimakan campur dengan lontong atau nasi. Yang membedakan dengan jenis soto lain adalah alat masaknya yang unik, yakni menggunakan gentong. Selain itu, makanan ini dimasak dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Selain alat memasaknya yang khas, empal gentong juga memiliki sambal yang punya cita rasa tersendiri. Sambal yang super pedas dan berbahan dasar cabe rawit yang dikeringkan ini membuat rasa maupun aromanya benar-benar khas dan menggugah selera makan. Empal ini berisi daging sapi, usus, dan babat disertai dengan kuah santan yang kental sehingga membuat aroma masakan semakin sedap.
Empal Gentong
Empal Gentong
2. Nasi Lengko
Meski terdiri dari bahan yang sederhana, makanan ini mengandung banyak nutrisi yang sangat baik bagi tubuh. Makanan khas Cirebon ini terdiri dari campuran nasi dengan tahu, tempe, mentimun, tauge, dan daun kucai (seledri). Di atas campuran itu, ditaburi bawang goreng dan disiram bumbu kacang dan kecap. Menjadi lebih enak dimakan apabila dimakan beserta krupuk. Warung nasi lengko cukup tersebar di sekeliling kota Cirebon. Selain sederhana, harga nasi lengko juga terjangkau bagi masyarakat kelas bawah
3. Nasi Jamblang
Nasi jamblang adalah nasi khas Cirebon yang pulen dan dibungkus dengan rangkapan daun jati. Selain rasa nasinya yang enak (pulen), aromanya yang khas, dan bentuknya yang unik, juga kekhasan lain dari Nasi Jamblang ini adalah sambel merahnya yang dibungkus dengan takir kecil. Lauk pauk untuk nasi ini disediakan secara bermacam-macam, ada paru goreng, sate usus, ikan asin, telor dadar, telor ceplok, daging, tempe goreng, tahu goreng, tahu masak, hati goreng, rempela goring, perkedel, dan lain-lain. Jamblang adalah nama sebuah daerah di Kabupaten Cirebon asal mula nasi ini berasal.
4. Tahu Gejrot
Tahu Gejrot adalah tahu goreng yang dipotong-potong dan dimakan di dalam piring kecil yang terbuat dari tanah merah. Potongan tahu ini diberi bumbu gula merah, bawang merah, cabe, dan sari asam. Tahu gejrot dapat diperoleh di berbagai tempat di Kota dan Kabupaten Cirebon. Tahu gejrot kebanyakan dijual dengan cara dipinggul dan berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Tahu gejrot akan terasa lebih enak manakala dimakan pada saat cuaca sedang panas atau siang hari.
5. Bubur Sop
Bubur Sop adalah bubur yang disertai kol, daun bawang, tauco, disiram dengan kuah sop yang ditaburi daging ayam suwir-suwiran dan kerupuk. Bubur ini akan terasa sangat nikmat apabila kuah sop segar. Bubur Sop biasa dimakan sebagai sarapan pagi.
6. Sate Kalong
Meski namanya sate kalong, bukan berarti sate daging kalong, melainkan sate yang dijual menjelang maghrib dan satenya terbuat dari daging kerbau. Sate ini dipercaya masyarakat sebagai makanan untuk penambah stamina.
7. Docang
Docang terbuat dari lontong yang dipadukan dengan daun singkong, toge, taburan kelapa parut, kerupuk, dan ditaburi dengan kuah yang terbuat dari dage/bumbu oncom. Dengan taburan kelapa parut asli, sayuran, dan kuah bening yang terbuat dari oncom, makanan ini terasa nikmat juga segar. Makanan ini mudah dijumpai pada hampir setiap kecamatan di Cirebon.
8. Mie Koclok
Makanan ini terbuat dari mie yang ditaburi toge, kol, dan dipadukan telor ayam, daging dengan bumbu kuah santan. Makanan ini menjadi nikmat manakala dimakan pada malam hari.
9. Kerupuk Melarat
Kerupuk Melarat adalah kerupuk yang digoreng dengan pasir, bukan minyak. Biasanya krupuk ini berbentuk lebar tak beraturan dan berwarna-warni. Proses pembuatannya tidak beda dengan krupuk pada umumnya. Terbuat dari aci (tepung). Dinamakan krupuk melarat karena digoreng tidak dengan minyak, tetapi dengan pasir.
10. Kerupuk Lambak
Kerupuk yang berwarna coklat kehitaman (warna kulit) ini terbuat dari kulit kerbau pilihan. Kerupuk ini bentuknya besar-besar dan ukurannya lebar. Dengan warna yang alami membuat rasa krupuk lambak ini sangat gurih nan nikmat.
11. Terasi Udang
Sekilas terasi ini tampak sama dengan terasi-terasi lainnya. Kekhasan terasi udang Cirebon terletak dari bahan dasar pembuatannya, yakni dari rebon atau udang kecil-kecil yang berwarna merah. Terasi Cirebon disajikan dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang dibungkus dengan plastik, ada juga dengan daun pisang tua. Terasi yang dibungkus dengan daun pisang tua terasa lebih khas, terutama bau dan rasanya. Terasi ini biasanya bahan pokok untuk pembuatan sambal terasi. Terasi ini dapat dijumpai di beberapa daerah di Cirebon.
Minuman Khas Cirebon
1. Tjanpolay
Tjanpolay adalah minuman sirup yang disajikan dalam bentuk botol. Penyajiannya sama dengan bentuk sirup lainnya. Sirup Tjampolay memiliki cita rasa tersendiri. Sirup ini memiliki rasa yang beraneka ragam, ada rasa pisang susu, lici, jeruk nipis, melon, dan strauberi membuat rasa semakin nikmat.
2. Teh Poci
Sekilas teh ini tidak berbeda dengan teh yang lain. Teh poci memiliki rasa yang sangat nikmat karena selain dari rasa teh yang alami, juga disuguhkan dengan menggunakan sejenis teko yang terbuat dari tanah liat (Poci), dan gula batu (bukan gula pasir). Teh ini sangat terasa nikmatnya manakala diminum pada pagi atau malam hari.
Sumber : http://fahmina.or.id/kecirebonan/makanan-dan-minuman-khas/683-makanan-dan-minuman-khas-cirebon-.html
Komisi VI DPR Sepakat Ekspor Rotan Distop!
Sekurang-kurangnya ada dua kabar gembira dari kunjungan kerja Komisi VI DPR RI di kabupaten/kota Cirebon pada tanggal 31 Oktober 2007 yang lalu. Pertama, Komisi VI DPR RI telah menyepakati usulan para pelaku usaha industri rotan Cirebon agar SK Mendag No. 12/1005 yang membuka keran ekspor bahan baku rotan dicabut karena keberadaan SK tersebut telah membuat industri mebel dan kerajinan nasional sekarat.
Kedua, ketua rombongan Komisi VI yang juga Wakil Ketua Komisi VI Anwar Sanusi menyampaikan informasi sangat penting kepada Bupati Cirebon Drs. H. Dedi Supardi (saat berkunjung ke PT HBM Rattan) bahwa Menteri Perindustrian Fahmi Idris telah melayangkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar ekspor rotan dilarang. Anwar Sanusi berharap, akhir November ini pemerintah sudah bisa mengeluarkan kebijakan yang melarang ekspor rotan.
Dalam sesi tanya jawab antara para pelaku industri rotan dengan anggota DPR di Hotel Santika Cirebon, para pelaku industri strategis ini meminta agar DPR benar-benar serius menangggapi masalah yang dihadapi industri. Bahkan Ketua Kadinda Kabupaten Cirebon H. Oman Syahroman dengan pedas mengkritik anggota DPR yang dinilainya hanya menghabiskan anggaran, namun tidak jelas hasilnya. Oman minta anggota DPR bisa sungguh-sungguh berjuang demi rakyat yang diwakilinya, jangan hanya membuang anggaran.
Menanggapi kritikan pedas itu, Anwar Sanusi berjanji pihaknya bukan hanya akan memperjuangkan tetapi akan terus mengawal, sehingga perjuangan pelaku industri rotan agar SK Mendag tersebut dicabut bisa direalisasi. Menurut Anwar Sanusi, apa yang diperjuangkan oleh kawan-kawan dari industri mebel dan kerajinan rotan supaya SK tersebut dicabut adalah realistis. Kenapa?, karena Indonesia ini mestinya tidak mengekspor bahan baku, bukan hanya bahan baku rotan. Mestinya, kita sebagai negara sedang berkembang yang sudah mengarah ke negara maju merubah kebijakannya, yakni menjadikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi untuk diekspor, karena ada nilai tambahnya.
“Dengan kondisi industri mebel dan kerajinan rotan sekarang ini, yakni terjadi kelangkaan bahan baku, kami merekomendasikan agar bahan baku ini distop ekspor, tetapi dengan catatan dengan berproses agar menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi”, katanya.
Produk Unggulan
Menurut Ketua Umum AMKRI M. Hatta Sinatra, kalau kita berpikir jangka panjang untuk pertumbuhan industri barang jadi rotan, mebel, sudah semestinya sikap DPR RI seperti itu, maksudnya mendukung pelarangan ekspor rotan. Bahkan mestinya sikap seperti itu sudah ditunjukkan sejak dulu, sejak keluarnya SK Mendag No. 12/1005 yang membuka keran ekspor bahan baku rotan.
Kebijakan pelarangan ini, kata Hatta sudah terlambat tetapi ini masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Industri rotan ini dari dulu mestinya mengacu pada grand strategy plan sehingga pengembangan industri strategis ini menjadi lebih jelas. Selama ini karena tidak ada guidance, maka pengembangannya tidak seperti yang diharapkan.
Menurut Direktur PT Indo Grand Rattan, Jaso, pemerintah harus segera menutup kran ekspor bahan baku rotan karena hanya dengan industri rotanlah yang bisa membuat Indonesia unggul dan memiliki posisi tawar tinggi dibandingkan negara lain. "Indonesia harusnya bangga memiliki industri rotan yang sudah diakui dunia. Hanya dengan industri rotan saja, Indonesia bisa menyaingi negara-negara lainnya," katanya.
Sebagai pelaku industri yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk industri rotan, tentu saja Jaso sangat setuju jika mebel rotan segera dijadikan mebel nasional seperti halnya batik yang dijadikan pakaian nasional. Keinginan ini tentu tidak terlalu berlebihan jika kita melihat realitas yang ada, yakni masyakat Indonesia sudah lama mengenal mebel rotan dan mereka pun menyukai produk tersebut.
Menagih Janji DPR
Para pelaku industri mebel dan kerajinan rotan nasional tentu menyambut dengan suka cita jika pemerintah segera mencabut SK Mendag No. 12/1005 yang membuka keran ekspor bahan baku rotan tersebut, sebab pembukaan keran ekspor bahan baku ini telah membuat kondisi industri rotan sekarat. Akibat dibukanya keran ekspor bahan baku rotan, industri rotan yang tumbuh subur di Cirebon tinggal 30% saja. Semenjak peraturan itu digulirkan sekitar 420.000 orang dari 600.000 tenaga kerja di industri rotan menjadi pengangguran. Kalaupun ada yang masih bertahan, tampaknya tidak akan lama karena kinerja industri rotan terus menurun tajam.
Padahal dulu, pada saat kondisi normal, satu bulan paling tidak ada 2.000 kontainer produk mebeler asal Cirebon yang diekspor. Namun saat ini, untuk mencapai angka 800 kontainer saja sulit sekali. Pada pertengahan Juli sampai Desember 2006, rata-rata ekspor hanya 800 kontainer per bulan. Itu pun pada Oktober hanya 740 kontainer dan November hanya 726 kontainer.
Pada saat kunjungan kerja Komisi VI DPR RI di Kabupaten/Kota Cirebon pada tanggal 31 Oktober 2007, para pelaku industri mebel dan kerajinan rotan nasional diingatkan oleh beberapa anggota dewan agar selalu mengingatkan Komisi VI yang sudah sepakat menyetop ekspor bahan baku rotan dan akan terus mengawal sehingga SK Menperindag benar-benar dicabut pemerintah.
Salah seorang anggota Komisi VI DPR Fahry Hamzah mengingatkan agar para pelaku industri mebel dan kerajinan rotan nasional memantau dan meminta informasi terkini mengenai langkah DPR tersebut. Fahry juga meminta kepada para pelaku industri ini mengingatkan ketua rombongan yang juga Wakil Ketua Komisi VI DPR Anwar Sanusi mengenai follow up kunjungannya ke Cirebon, utamanya mengenai keberadaan SK Menperindag yang sudah sangat menyusahkan industri mebel rotan.
Kita berharap para anggota Dewan (Komisi VI DPR) terus berjuang untuk mencabut SK Menperindag tersebut. Jika SK itu dicabut, kita akan menjadi raksasa yang tak terkalahkan di industri mebel rotan. Kita memang harus optimistis bahwa industri strategis ini memiliki prospek yang baik karena kita memiliki domination dalam hal bahan baku. Indonesia adalah pemilik bahan baku industri mebel dan kerajinan rotan terbesar di dunia dengan potensi produk rotan alam mencapai sekitar 250 ribu sampai 300 ribu ton per tahun atau sekitar 85% dari produksi dunia.
Sumber :http://rattan-amkri.com/?p=6&n_id=12
Kedua, ketua rombongan Komisi VI yang juga Wakil Ketua Komisi VI Anwar Sanusi menyampaikan informasi sangat penting kepada Bupati Cirebon Drs. H. Dedi Supardi (saat berkunjung ke PT HBM Rattan) bahwa Menteri Perindustrian Fahmi Idris telah melayangkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar ekspor rotan dilarang. Anwar Sanusi berharap, akhir November ini pemerintah sudah bisa mengeluarkan kebijakan yang melarang ekspor rotan.
Dalam sesi tanya jawab antara para pelaku industri rotan dengan anggota DPR di Hotel Santika Cirebon, para pelaku industri strategis ini meminta agar DPR benar-benar serius menangggapi masalah yang dihadapi industri. Bahkan Ketua Kadinda Kabupaten Cirebon H. Oman Syahroman dengan pedas mengkritik anggota DPR yang dinilainya hanya menghabiskan anggaran, namun tidak jelas hasilnya. Oman minta anggota DPR bisa sungguh-sungguh berjuang demi rakyat yang diwakilinya, jangan hanya membuang anggaran.
Menanggapi kritikan pedas itu, Anwar Sanusi berjanji pihaknya bukan hanya akan memperjuangkan tetapi akan terus mengawal, sehingga perjuangan pelaku industri rotan agar SK Mendag tersebut dicabut bisa direalisasi. Menurut Anwar Sanusi, apa yang diperjuangkan oleh kawan-kawan dari industri mebel dan kerajinan rotan supaya SK tersebut dicabut adalah realistis. Kenapa?, karena Indonesia ini mestinya tidak mengekspor bahan baku, bukan hanya bahan baku rotan. Mestinya, kita sebagai negara sedang berkembang yang sudah mengarah ke negara maju merubah kebijakannya, yakni menjadikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi untuk diekspor, karena ada nilai tambahnya.
“Dengan kondisi industri mebel dan kerajinan rotan sekarang ini, yakni terjadi kelangkaan bahan baku, kami merekomendasikan agar bahan baku ini distop ekspor, tetapi dengan catatan dengan berproses agar menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi”, katanya.
Produk Unggulan
Menurut Ketua Umum AMKRI M. Hatta Sinatra, kalau kita berpikir jangka panjang untuk pertumbuhan industri barang jadi rotan, mebel, sudah semestinya sikap DPR RI seperti itu, maksudnya mendukung pelarangan ekspor rotan. Bahkan mestinya sikap seperti itu sudah ditunjukkan sejak dulu, sejak keluarnya SK Mendag No. 12/1005 yang membuka keran ekspor bahan baku rotan.
Kebijakan pelarangan ini, kata Hatta sudah terlambat tetapi ini masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Industri rotan ini dari dulu mestinya mengacu pada grand strategy plan sehingga pengembangan industri strategis ini menjadi lebih jelas. Selama ini karena tidak ada guidance, maka pengembangannya tidak seperti yang diharapkan.
Menurut Direktur PT Indo Grand Rattan, Jaso, pemerintah harus segera menutup kran ekspor bahan baku rotan karena hanya dengan industri rotanlah yang bisa membuat Indonesia unggul dan memiliki posisi tawar tinggi dibandingkan negara lain. "Indonesia harusnya bangga memiliki industri rotan yang sudah diakui dunia. Hanya dengan industri rotan saja, Indonesia bisa menyaingi negara-negara lainnya," katanya.
Sebagai pelaku industri yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk industri rotan, tentu saja Jaso sangat setuju jika mebel rotan segera dijadikan mebel nasional seperti halnya batik yang dijadikan pakaian nasional. Keinginan ini tentu tidak terlalu berlebihan jika kita melihat realitas yang ada, yakni masyakat Indonesia sudah lama mengenal mebel rotan dan mereka pun menyukai produk tersebut.
Menagih Janji DPR
Para pelaku industri mebel dan kerajinan rotan nasional tentu menyambut dengan suka cita jika pemerintah segera mencabut SK Mendag No. 12/1005 yang membuka keran ekspor bahan baku rotan tersebut, sebab pembukaan keran ekspor bahan baku ini telah membuat kondisi industri rotan sekarat. Akibat dibukanya keran ekspor bahan baku rotan, industri rotan yang tumbuh subur di Cirebon tinggal 30% saja. Semenjak peraturan itu digulirkan sekitar 420.000 orang dari 600.000 tenaga kerja di industri rotan menjadi pengangguran. Kalaupun ada yang masih bertahan, tampaknya tidak akan lama karena kinerja industri rotan terus menurun tajam.
Padahal dulu, pada saat kondisi normal, satu bulan paling tidak ada 2.000 kontainer produk mebeler asal Cirebon yang diekspor. Namun saat ini, untuk mencapai angka 800 kontainer saja sulit sekali. Pada pertengahan Juli sampai Desember 2006, rata-rata ekspor hanya 800 kontainer per bulan. Itu pun pada Oktober hanya 740 kontainer dan November hanya 726 kontainer.
Pada saat kunjungan kerja Komisi VI DPR RI di Kabupaten/Kota Cirebon pada tanggal 31 Oktober 2007, para pelaku industri mebel dan kerajinan rotan nasional diingatkan oleh beberapa anggota dewan agar selalu mengingatkan Komisi VI yang sudah sepakat menyetop ekspor bahan baku rotan dan akan terus mengawal sehingga SK Menperindag benar-benar dicabut pemerintah.
Salah seorang anggota Komisi VI DPR Fahry Hamzah mengingatkan agar para pelaku industri mebel dan kerajinan rotan nasional memantau dan meminta informasi terkini mengenai langkah DPR tersebut. Fahry juga meminta kepada para pelaku industri ini mengingatkan ketua rombongan yang juga Wakil Ketua Komisi VI DPR Anwar Sanusi mengenai follow up kunjungannya ke Cirebon, utamanya mengenai keberadaan SK Menperindag yang sudah sangat menyusahkan industri mebel rotan.
Kita berharap para anggota Dewan (Komisi VI DPR) terus berjuang untuk mencabut SK Menperindag tersebut. Jika SK itu dicabut, kita akan menjadi raksasa yang tak terkalahkan di industri mebel rotan. Kita memang harus optimistis bahwa industri strategis ini memiliki prospek yang baik karena kita memiliki domination dalam hal bahan baku. Indonesia adalah pemilik bahan baku industri mebel dan kerajinan rotan terbesar di dunia dengan potensi produk rotan alam mencapai sekitar 250 ribu sampai 300 ribu ton per tahun atau sekitar 85% dari produksi dunia.
Sumber :http://rattan-amkri.com/?p=6&n_id=12
Keraton Kasepuhan Cirebon
Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506, beliau bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon.Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Dan sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Putri itu cantik rupawan berbudi luhur dan bertubuh kokoh serta dapat mendampingi suami, baik dalam bidang Islamiyah, pembina negara maupun sebagai pengayom yang menyayangi rakyatnya.
Ahkirnya beliau pada tahun 1549 wafat dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua, dari pengorbanan tersebut akhirnya nama beliau diabadikan dan dimulyakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.
SILSILAH SULTAN KASEPUHAN CIREBON
1. Pangeran Pasarean
2. Pangeran di Jati Carbon
3. Panembahan Ratu
4. Pangeran di Jati Carbon
5. Panembahan Girilaya
6. Sultan Raja Syamsudin
7. Sultan Raja Tajularipin Jamaludin
8. Sultan Sejuh Raja Jaenudin
9. Sultan Sepuh Raja Suna Moh Jaenudin
10. Sultan Sejuh Safidin Matangaji
11. Sultan Sejuh Hasanudin
12. Sultan Sepuh I
13. Sultan Sejuh Raja Samsudin I
14. Sultan Sejuh Raja Samsudin II
15. Sultan Sepuh Raja Ningrat
16. Sultan Sepuh Jamaludin Aluda
17. Sultan Sejuh Raja Rajaningrat
18. Sultan Pangeran Raja Adipati H. Maulana Pakuningrat, SH
19. Sultan Pangeran Raja Adipati Arif Natadiningrat
Sumber :http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/keraton-kasepuhan-cirebon/
Ahkirnya beliau pada tahun 1549 wafat dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua, dari pengorbanan tersebut akhirnya nama beliau diabadikan dan dimulyakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.
SILSILAH SULTAN KASEPUHAN CIREBON
1. Pangeran Pasarean
2. Pangeran di Jati Carbon
3. Panembahan Ratu
4. Pangeran di Jati Carbon
5. Panembahan Girilaya
6. Sultan Raja Syamsudin
7. Sultan Raja Tajularipin Jamaludin
8. Sultan Sejuh Raja Jaenudin
9. Sultan Sepuh Raja Suna Moh Jaenudin
10. Sultan Sejuh Safidin Matangaji
11. Sultan Sejuh Hasanudin
12. Sultan Sepuh I
13. Sultan Sejuh Raja Samsudin I
14. Sultan Sejuh Raja Samsudin II
15. Sultan Sepuh Raja Ningrat
16. Sultan Sepuh Jamaludin Aluda
17. Sultan Sejuh Raja Rajaningrat
18. Sultan Pangeran Raja Adipati H. Maulana Pakuningrat, SH
19. Sultan Pangeran Raja Adipati Arif Natadiningrat
Sumber :http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/keraton-kasepuhan-cirebon/
Belajar Iptek di Keraton Kasepuhan Cirebon
Cirebon adalah kota pelabuhan di pesisir utara Pulau Jawa yang pernah menjadi pelabuhan penting pada zamannya. Tidak heran kalau jejak perdagangan dan percampuran budaya banyak mempengaruhi tampilan desain dari Cirebon. Banyak hal yang bisa diperoleh dari perjalanan wisata ke Cirebon, diantaranya adalah kunjungan ke beberapa keraton yang ada disana, salah satunya adalah Keraton Kasepuhan.
Alkisah, Cirebon berasal dari sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa dan diberi nama Caruban, arti kata yang berasal dari bahasa Sunda ini adalah campuran. Hal ini terutama karena penduduk pedukuhan yang berkembang menjadi desa dan akhirnya menjadi sebuah kota itu adalah percampuran antara pendatang dari berbagai bangsa, agama, bahasa, dan mata pencaharian.
Pada awalnya mata pencaharian utama masyarakat daerah itu adalah sebagai nelayan, terutama untuk menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai. Untuk membuat terasi mereka menggunakan udang rebon, dan dari situ muncul istilah Cai Rebon (bahasa Sunda) atau Air Rebon, air bekas pembuatan terasi. Bisa jadi dari sinilah asal muasal nama kota yang berada di tengah-tengah antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Saya masih ingat komik pertama yang mengenalkan saya kepada kota Cirebon adalah “Kisah Sunan Gunung Jati dan Putri Cina”. Saya lupa penerbitnya, seharusnya komik ini masih ada di antara harta karun saya yang berupa buku-buku berdebu di attic rumah. Tidak heran kalau kisah putri dari China ini merupakan salah satu kisah yang menjadi bagian sejarah dari Cirebon, karena piring-piring porselin dari Tiongkok menghiasi dinding keraton-keraton di Cirebon, bahkan juga di situs bersejarah lainnya di Cirebon. Bukan hanya dari hiasan porselin di dinding yang menandakan hubungan baik keraton dengan Tiongkok pada masa lalu yang tampil di Cirebon, tetapi terlihat juga pada berbagai pola desain dan penggunaan warna.
Cirebon tidak hanya memiliki dua buah keraton, tetapi keberadaan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman adalah bukti keberadaan politik ‘devide et impera’ kaum kolonialis. Perpecahan yang dibuat oleh Belanda untuk melemahkan perlawanan masyarakat berakibat timbulnya dua keraton ini. Sesuai dengan namanya maka Keraton Kanoman adalah keraton yang lebih muda, yang muncul belakangan. Selain kedua keraton itu seharusnya masih ada Keraton Kacirebonan. Ketiganya memiliki ciri menghadap ke Utara, di sebelah kiri Kraton ada mesjid, dan di taman keraton ada patung macan perlambang Prabu Siliwangi, tokoh sentral dalam sejarah Cirebon. Keraton juga memiliki alun-alun yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya masyarakat sekaligus juga tempat menggelar pasar. Bahkan Keraton Kanoman tampaknya sekarang malahan terkurung di dalam pasar yang bermula dari alun-alun keraton itu.
Kehadiran Belanda tampaknya juga diabadikan dengan kehadiran keramik-keramik Belanda yang ditempel di dinding keraton. Dinding keraton bagaikan catatan sejarah dalam dimensi ruang.
Cirebon sendiri merupakan tempat yang menarik untuk mempelajari akulturasi budaya yang terjadi di kota pelabuhan yang cukup aktif ini. Motif megamendung yang merupakan motif khas batik Cirebon merupakan pengaruh Oriental seperti yang biasa tampak pada gambar awan di keramik-keramik asal Tiongkok. Warna-warna yang lebih cerah tidak hanya mewarnai batik mereka, tetapi juga mewarnai interior bangunannya, warna ini berbeda dari warna batik Jogja maupun Solo yang awalnya hanya memakai satu warna.
Keraton Kasepuhan adalah keraton yang paling terawat di antara keraton-keraton di Cirebon. Keraton awal adalah keraton Pakungwati yang berdiri di belakang keraton Kasepuhan, dibangun oleh Prabu Cakrabuana (tahun 1445). Keraton tersebut kemudian diperluas pada tahun 1529. Mesjid Agung yang berdiri di Timur keraton dibangun pada tahun 1549.
Yang menarik dari Keraton ini adalah kereta yang dikeramatkan yaitu Kereta Singa Barong. Sejak tahun 1942 kereta ini hanya dikeluarkan pada tanggal 1 Syawal untuk dimandikan. Kembarannya berada di Keraton Kanoman bernama Kereta Paksi Naga Liman. Kereta ini sangat menarik karena memperlihatkan hasil karya teknologi yang tinggi. Sistim suspensi hidrolik yang dibangun dengan kayu dan baja itu memungkinkan kenyamanan pemakaian si pengguna. Belum lagi desain roda yang menghindarkan pengendara dari lumpur yang terlontar dari roda. Bahwa enam abad yang lalu sudah ada teknologi yang begitu maju, rasanya sangat menakjubkan. Apalagi menurut pengantar wisata, teknologi ini diakui secara internasional sebagai teknologi yang maju di zamannya. Rupanya keraton bukan hanya tempat belajar kebudayaan dan sejarah, tetapi bisa juga menjadi tempat belajar sejarah kemajuan iptek di masa lalu.
Sumber :http://www.wikimu.com/News/DisplayNewsWisata.aspx?id=13615&post=1
Alkisah, Cirebon berasal dari sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa dan diberi nama Caruban, arti kata yang berasal dari bahasa Sunda ini adalah campuran. Hal ini terutama karena penduduk pedukuhan yang berkembang menjadi desa dan akhirnya menjadi sebuah kota itu adalah percampuran antara pendatang dari berbagai bangsa, agama, bahasa, dan mata pencaharian.
Pada awalnya mata pencaharian utama masyarakat daerah itu adalah sebagai nelayan, terutama untuk menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai. Untuk membuat terasi mereka menggunakan udang rebon, dan dari situ muncul istilah Cai Rebon (bahasa Sunda) atau Air Rebon, air bekas pembuatan terasi. Bisa jadi dari sinilah asal muasal nama kota yang berada di tengah-tengah antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Saya masih ingat komik pertama yang mengenalkan saya kepada kota Cirebon adalah “Kisah Sunan Gunung Jati dan Putri Cina”. Saya lupa penerbitnya, seharusnya komik ini masih ada di antara harta karun saya yang berupa buku-buku berdebu di attic rumah. Tidak heran kalau kisah putri dari China ini merupakan salah satu kisah yang menjadi bagian sejarah dari Cirebon, karena piring-piring porselin dari Tiongkok menghiasi dinding keraton-keraton di Cirebon, bahkan juga di situs bersejarah lainnya di Cirebon. Bukan hanya dari hiasan porselin di dinding yang menandakan hubungan baik keraton dengan Tiongkok pada masa lalu yang tampil di Cirebon, tetapi terlihat juga pada berbagai pola desain dan penggunaan warna.
Cirebon tidak hanya memiliki dua buah keraton, tetapi keberadaan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman adalah bukti keberadaan politik ‘devide et impera’ kaum kolonialis. Perpecahan yang dibuat oleh Belanda untuk melemahkan perlawanan masyarakat berakibat timbulnya dua keraton ini. Sesuai dengan namanya maka Keraton Kanoman adalah keraton yang lebih muda, yang muncul belakangan. Selain kedua keraton itu seharusnya masih ada Keraton Kacirebonan. Ketiganya memiliki ciri menghadap ke Utara, di sebelah kiri Kraton ada mesjid, dan di taman keraton ada patung macan perlambang Prabu Siliwangi, tokoh sentral dalam sejarah Cirebon. Keraton juga memiliki alun-alun yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya masyarakat sekaligus juga tempat menggelar pasar. Bahkan Keraton Kanoman tampaknya sekarang malahan terkurung di dalam pasar yang bermula dari alun-alun keraton itu.
Kehadiran Belanda tampaknya juga diabadikan dengan kehadiran keramik-keramik Belanda yang ditempel di dinding keraton. Dinding keraton bagaikan catatan sejarah dalam dimensi ruang.
Cirebon sendiri merupakan tempat yang menarik untuk mempelajari akulturasi budaya yang terjadi di kota pelabuhan yang cukup aktif ini. Motif megamendung yang merupakan motif khas batik Cirebon merupakan pengaruh Oriental seperti yang biasa tampak pada gambar awan di keramik-keramik asal Tiongkok. Warna-warna yang lebih cerah tidak hanya mewarnai batik mereka, tetapi juga mewarnai interior bangunannya, warna ini berbeda dari warna batik Jogja maupun Solo yang awalnya hanya memakai satu warna.
Keraton Kasepuhan adalah keraton yang paling terawat di antara keraton-keraton di Cirebon. Keraton awal adalah keraton Pakungwati yang berdiri di belakang keraton Kasepuhan, dibangun oleh Prabu Cakrabuana (tahun 1445). Keraton tersebut kemudian diperluas pada tahun 1529. Mesjid Agung yang berdiri di Timur keraton dibangun pada tahun 1549.
Yang menarik dari Keraton ini adalah kereta yang dikeramatkan yaitu Kereta Singa Barong. Sejak tahun 1942 kereta ini hanya dikeluarkan pada tanggal 1 Syawal untuk dimandikan. Kembarannya berada di Keraton Kanoman bernama Kereta Paksi Naga Liman. Kereta ini sangat menarik karena memperlihatkan hasil karya teknologi yang tinggi. Sistim suspensi hidrolik yang dibangun dengan kayu dan baja itu memungkinkan kenyamanan pemakaian si pengguna. Belum lagi desain roda yang menghindarkan pengendara dari lumpur yang terlontar dari roda. Bahwa enam abad yang lalu sudah ada teknologi yang begitu maju, rasanya sangat menakjubkan. Apalagi menurut pengantar wisata, teknologi ini diakui secara internasional sebagai teknologi yang maju di zamannya. Rupanya keraton bukan hanya tempat belajar kebudayaan dan sejarah, tetapi bisa juga menjadi tempat belajar sejarah kemajuan iptek di masa lalu.
Sumber :http://www.wikimu.com/News/DisplayNewsWisata.aspx?id=13615&post=1
Keraton Kanoman Cirebon
IATMI-CIREBON:
Keraton Kanoman adalah pusat peradaban Kesultanan Cirebon, yang kemudian terpecah menjadi Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon.
Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal, seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara.
Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.
Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektar ini berlokasi di belakang pasar. Di Keraton ini tinggal sultan ke-12 yang bernama raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga.
Keraton adalah komplek yang luas, yang terdiri dari dua puluh tujuh bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal witana yang merupakan cikal bakal Keraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepak bola ini.
Di Keraton ini masih terdapat barang barang Sunan Gunung Jati, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang Masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burok, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi'raj.
Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan di bagian tengah Keraton terdapat komplek bangunan bangunan bernama Siti Hinggil.
Hal yang menarik dari Keraton di Cirebon adalah adanya piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon.
Dan yang tidak kalah penting dari Keraton di Cirebon adalah keraton selalu menghadap ke utara. Dan di halamannya ada patung macan sebagai perlambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun-alun untuk rakyat berkumpul dan pasar sebagai pusat perekonomian, di sebelah timur keraton selalu ada masjid.
Sumber :http://www.iatmi-cirebon.org/ver.2/BeritaCirebon.php?IDKategori=4&id=47
Keraton Kanoman adalah pusat peradaban Kesultanan Cirebon, yang kemudian terpecah menjadi Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon.
Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal, seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara.
Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.
Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektar ini berlokasi di belakang pasar. Di Keraton ini tinggal sultan ke-12 yang bernama raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga.
Keraton adalah komplek yang luas, yang terdiri dari dua puluh tujuh bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal witana yang merupakan cikal bakal Keraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepak bola ini.
Di Keraton ini masih terdapat barang barang Sunan Gunung Jati, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang Masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burok, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi'raj.
Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan di bagian tengah Keraton terdapat komplek bangunan bangunan bernama Siti Hinggil.
Hal yang menarik dari Keraton di Cirebon adalah adanya piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon.
Dan yang tidak kalah penting dari Keraton di Cirebon adalah keraton selalu menghadap ke utara. Dan di halamannya ada patung macan sebagai perlambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun-alun untuk rakyat berkumpul dan pasar sebagai pusat perekonomian, di sebelah timur keraton selalu ada masjid.
Sumber :http://www.iatmi-cirebon.org/ver.2/BeritaCirebon.php?IDKategori=4&id=47
Langganan:
Postingan (Atom)